Posted in doIndonesia, Tentang Racau

~tentang, akhirnya Vaksin juga

Terhitung sejak Maret 2020 Aku puasa naik mobil karena memang tidak keluar rumah. Barusan naik mobil 20 menit aja ke Bintaro malah mual-mual. Hiks… ku teringat masa lalu, sensasi aduhay di mobil Bapak yang baru buka pintunya sudah semerbak parfum lemon kecut :’) Sekarang? mobil aromanya sanitizer semua.

Sedih banget…biasanya jalan dan mall selalu ramai. Sekalinya keluar rumah dan lihat situasi sepi gini pengen nangis dan jitak Thanos!
Continue reading “~tentang, akhirnya Vaksin juga”
Posted in doIndonesia, Tentang Racau

~tentang bersiap Vaksinasi

Malam ini berusaha mencari ketenangan sejenak. Menengok sepintas dunia maya, tapi situasi semakin tak bisa dipercaya. Beberapa sahabat masih bebal kalau pandemi ini hanyalah rekayasa. Sahabat lainnya, tengah berduka kehilangan sanak saudara. Jika tidak bisa membantu, melegakan, meringankan beban satu sama lain…cobalah berpikir dengan jernih dan berempati. “Jika bukan kita yang mengalami, bukan berarti duka itu tak berarti”.

Tetapi kita bukan sekadar angka. Di balik angka-angka yang terus membesar, banyak cerita perih, duka namun juga semangat dan harapan.

Puan Indonesia Menulis Pandemi, Kita Bukan Sekadar Angka.
Continue reading “~tentang bersiap Vaksinasi”
Posted in Tentang Racau, Uncategorized

~tentang setahun lebih playing isoman

“suntuk banget nih di rumah, butuh udara segar. Mungkin berwisata sesekali ga apa-apa deh, aku kan taat protokol kesehatan”

“kangen nongkrong dan jumpa teman. Kalau ga ada konsumen, cafe resto mungkin bangkrut beneran”

“susah bagiku yang ekstrovert harus stay #dirumahaja semuanya sudah ku lakukan tapi rasanya iri lihat orang lain kok leluasa unggah aktitivas luangnya di luar rumah”

and so on… and so forth.

my mantra…
Continue reading “~tentang setahun lebih playing isoman”
Posted in Tentang Anak, Tentang Keluarga

~tentang empati yang dirasa dan dikatakan

Berempati adalah salah satu praktik baik yang perlu aku gali dan pelajari. Ketika berinteraksi, kadang aku masih keliru memberikan respon atau bahkan ternyata salah mengartikan apa yang ditampilkan di hadapanku. Kembali belajar bersama profesor Cha. Kami bereksperimen dan bereksplorasi, belajar berempati.

Continue reading “~tentang empati yang dirasa dan dikatakan”