Posted in doIndonesia

~Tentang Tantangan dan Kesehatan Mental di Masa Pandemi

Merebaknya Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah menciptakan masa-masa sulit dan ketidakpastian dalam keseharian kita. Kebijakan percepatan penanganan pandemi tentu membawa perubahan dalam tatanan aktivitas kita sebagai individu, masyarakat lokal maupun global. Terlebih lagi dengan adanya pelonggaran tanpa dibarengi perhitungan risiko kesehatan masyarakat dapat menimbulkan cemas dan stress berkelanjutan. Ternyata walau punya privilese untuk tetap #dirumahaja atau bekerja dari rumah, sebagai manusia yang berperasaan saya akhirnya merasa jenuh juga. Keseharian yang terbatas pada itu-itu saja kadang bikin emosi tidak stabil atau lelah tak beraturan. Duh, apalagi suami yang harus tetap bekerja secara profesional tapi juga mesti sabar menanggapi rengekan anak yang dikit-dikit minta main. Akhirnya memutuskan untuk tetap mengikutkan Cha belajar daring walau akhirnya menambah tantangan tersendiri bagi  keluarga kami. Ya, di saat seperti ini penting sekali untuk bisa tetap waras, menjaga kesehatan fisik dan mental secara holistik.

104899039_10221090726556744_8045699705805943283_o

Beruntung rasanya bisa jadi bagian SMART Webinar ALPHA-I, saya jadi belajar banyak tentang kenyataan bahwa bekerja dari rumah memang dapat mempengaruhi kesehatan mental. Lalu apa saja tantangan kesehatan mental utama yang terjadi dalam keluarga? dan bagaimana cara agar bisa tetap sehat secara mental selama pandemi? Berikut saya tuliskan catatan kecil dari kegiatan ini. Continue reading “~Tentang Tantangan dan Kesehatan Mental di Masa Pandemi”

Posted in doIndonesia, Tentang Komunitas

~Tentang Norma Baru dan Kesiapan Komunitas Agama

Hari ini untuk pertama kalinya mengikuti webinar di masa pandemi dari sudut pandang yang berbeda. Senang sekali bisa ikut Silaturahmi & Diskusi Virtual “Norma Baru dan Kesiapan Komunitas Agama”. Memang sejak lama saya pun berpikir bahwa sila pertama dalam dasar negara patut kita jadikan  strategi bersama melewati kurun waktu genting ini. Ketika semua cara terasa buntu, semakin kuat doa, semakin sehat jasmani dan rohani kita. Sekiranya demikianlah awalnya saya berceloteh dalam hati. Berat rasanya jika ikut merayakan peningkatan angka kasus positif dan kematian dalam sebuah kata NORMAL. Pemilihan kata New Normal atau normal baru terasa sangat bias makna karena seolah menggambarkan kondisi sudah sangat baik karena masyarakat sudah bisa berkegiatan seperti sedia kala. Padahal pada kenyataannya, kita tidak sedang baik-baik saja.

Dipandu oleh Rifki Taofiq Sidqi, Direktur LK Kompas Tasikmalaya, silaturahmi dan diskusi virtual ini diikuti oleh 123 peserta berlangsung dengan hangat dan seru. Pembicara dalam forum ini pun sangat beragam mulai dari pihak media yaitu Adeste Adipriyanti, Kepala Divisi Konten Narasi, Edeng ZA, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Tasikmalaya serta Irma Hidayana, Lapor Covid-19, dan Husni Mubarok, Peneliti PUSAD Paramadina.

pusad paramadina

Continue reading “~Tentang Norma Baru dan Kesiapan Komunitas Agama”

Posted in doinUSA

~Tentang Virtual Photoshoot

WhatsApp Image 2020-06-03 at 12.10.58 AM
MOHON MAAF YA POSTINGAN PERTAMA FOTO MULU WKWKWK

Yeaaay, merayakan apapun setiap harinya 😆 termasuk apresiASI diri yang kembali percaya diri fotoan sendiri hahaha (walau tetap ditemenin buku biar ga grogi banget).

Ternyata udah cukup lama ya aku ga posting foto sendiri. Sekitar dua tahun kebelakang, Gawai isinya tingkah polah anak bayi dan foto makanan semua. Ditambah lagi memorinya sudah penuh gara-gara ikut banyak group WA parenting dan kelompok belajar ini itu.

Jujur sekali ku senang dan menikmati seluruh dinamika dalam tahapan berproses ini.

Continue reading “~Tentang Virtual Photoshoot”

Posted in doinUSA

~Tentang Belajar Bahasa Jepang (daring)

Jadi ngapain selama #dirumahAja ?

Selain #VirtualPhotoshoot aku juga coba hal baru, yaitu belajar bahasa Jepang secara daring! Setiap Sabtu-Minggu, sebelum/setelah kelas biasanya aku unggah kegiatan belajar bahasa Jepang (GRATIS) bersama @greenLanguange.Bali (bisa intip di sorotan story ‘Belajar Daring’ di instagramku)

Beberapa teman sempat nanya, Loh kok bisa? dimana? siapa gurunya? apa kriteria muridnya? beneran GRATIS? gimana metode belajarnya?

Screen Shot 2020-06-13 at 16.50.17
Suasana Belajar yang serius tapi santai. Foto lain bisa main ke iG @kadekdoi ya

Nah berikut cerita lengkapku selama mengikuti Batch 1 tingkat pemula bahasa Jepang di Green Languange Bali.

Jadi asal muasal ikut kelas bahasa Jepang ini diprakarsai oleh kebiasan Charita dan papski yang doyan banget ngajak dinner di Genki Sushi. Melihat etos kerja dan semangat dalam menyajikan masakan malah bikin aku yang ga terbiasa makan masakan Jepang jadi ikutan doyan. Ditambah lagi teman baikku, mamitik, juga suka ngajak ketemuan di sana. Alasan lainnya karena aku lagi suka banget nonton Tokyo Love Story, kok seru ya dengar percakapan dan keseharian mereka. Maka kuputuskan mau belajar bahasa Jepang (lagi) hahaha. Padahal masih berasa trauma masa sekolah dulu, malas sekali kalau ditunjuk maju ke kelas nulis Hiragana/Katagana.

Continue reading “~Tentang Belajar Bahasa Jepang (daring)”

Posted in doIndonesia, Tentang Komunitas, Tentang Perempuan

~ Tentang Akuibu, Akui Bu…

Tengah malam adalah waktu puncak produktivitasnya para ibu. Apa saja bisa tercetus dan terlaksana secepat kilat walau kadang seperti tak mungkin diterima akal sehat. Hahaha demikianlah yang ku rasakan ketika obrolan kami bertiga,Widhi, Reni dan Doi  berujung pada sebuah ide untuk membuat wadah inspirasi dan relaksasi untuk para ibu di Bali. Kebersamaan kami saling menerima dan menguatkan memberikan nutrisi pada proses bertumbuhnya kami sebagai individu. Manfaat itu yang ingin kami sebarkan dalam wadah yang lebih besar, sehingga bisa merangkul lebih banyak ibu-ibu perkasa.

WhatsApp Image 2020-07-31 at 11.45.30 AM.jpeg
Transisi Menuju Jadi Ibu

Berkawan sejak masa putih abu kami bersama-sama menikmati canda tawa hingga melewati hari paling kelabu. Setelah sekian dekade terpisah oleh jarak dan perjalanan hidup membentuk diri, senang sekali akhirnya kembali bertemu setelah jadi ibu. Sebuah privilese, kesenangan bisa punya tempat berkeluh kesah dan tak perlu bersandiwara. Seringkali pertemanan pura-pura namun sesak dalam dada membuat kita memendam perih yang sebenarnya perlu diterima dan diobati menjadi terabaikan.

It’s ok not to be okay. Sebuah privilese menjadi diri sendiri tanpa perlu beretorika.

Continue reading “~ Tentang Akuibu, Akui Bu…”