Posted in doinUSA

~Tentang Belajar Bahasa Jepang (daring)

Jadi ngapain selama #dirumahAja ?

Selain #VirtualPhotoshoot aku juga coba hal baru, yaitu belajar bahasa Jepang secara daring! Setiap Sabtu-Minggu, sebelum/setelah kelas biasanya aku unggah kegiatan belajar bahasa Jepang (GRATIS) bersama @greenLanguange.Bali (bisa intip di sorotan story ‘Belajar Daring’ di instagramku)

Beberapa teman sempat nanya, Loh kok bisa? dimana? siapa gurunya? apa kriteria muridnya? beneran GRATIS? gimana metode belajarnya?

Screen Shot 2020-06-13 at 16.50.17
Suasana Belajar yang serius tapi santai. Foto lain bisa main ke iG @kadekdoi ya

Nah berikut cerita lengkapku selama mengikuti Batch 1 tingkat pemula bahasa Jepang di Green Languange Bali.

Jadi asal muasal ikut kelas bahasa Jepang ini diprakarsai oleh kebiasan Charita dan papski yang doyan banget ngajak dinner di Genki Sushi. Melihat etos kerja dan semangat dalam menyajikan masakan malah bikin aku yang ga terbiasa makan masakan Jepang jadi ikutan doyan. Ditambah lagi teman baikku, mamitik, juga suka ngajak ketemuan di sana. Alasan lainnya karena aku lagi suka banget nonton Tokyo Love Story, kok seru ya dengar percakapan dan keseharian mereka. Maka kuputuskan mau belajar bahasa Jepang (lagi) hahaha. Padahal masih berasa trauma masa sekolah dulu, malas sekali kalau ditunjuk maju ke kelas nulis Hiragana/Katagana.

Nah ga sengaja lihat postingan temanku, @purnawanikadek yang unggah tentang klub bahasa asing yang sedang dikembangkannya. Secara personal aku kenal Awan sebagai tutor (duta bahasa dan beasiswa PRESTASI ) yang open minded dan baik hati. Jadi kalau sudah berhubungan dengannya, apalagi terkait kebahasaan, pasti selalu berfaedah dan ga pernah mengecewakan!

DAN MEMANG DEMIKIAN, SELALU BERFAEDAH.

Suasana Belajar dari rumahAku ikut bergabung di sesi ketiga, karena dua sesi sebelumnya ada urusan lain. Beruntung banget bisa diajar langsung oleh Sensei @prilyaSinta (yang kawaii bukan kowai ya hihihi) Beliau sudah belasan tahun menetap di Negeri Sakura dan merupakan salah satu staf pengajar di kampus setempat. Jadi profesional banget mengelola suasana belajar agar kondusif, partisipatif dan ga menegangkan sama sekali. (Ini nyaman banget buat ibu-ibu multitasking macem aku yang kadang mesti sambil nenenin anak atau suka skip/bingung pakai partikel). Bahkan saat aku skip dua kelas, beliau mengirimkan materi susulannya via email. Pernah juga aku ikut hanya setengah sesi, beliau kirimkan juga tautan rekaman kelasnya. Mau nanya sebanyak apapun di kelas atau di email pasti dijawab. Walau suka nunjuk pas praktik belajar, tapi jujur trauma masa laluku sedikit demi sedikit terobati.

Hahaha, bukan melankoli ya cuma bersyukur banget akhirnya aku ga keterusan malas belajar. Merasa beruntung karena berkesempatan untuk berani melawan ketakutan dan berproses menjadi lebih baik.

Strategi belajarnya sangat partisipatif. Sebelum memulai topik baru, sensei akan mengajak kita review pelajaran sebelumnya atau jika ada PR (sukhudai) akan dibahas sembari ingat-ingat lagi materi sebelumnya.

Screen Shot 2020-06-16 at 13.04.48Saat kelas berlangsung, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan huruf latin. Tapi di beberapa kesempatan, sensei juga menggunakan huruf Jepang dan sekilas tentang Kanji (Nah, aku baru tahu kalau ternyata huruf Kanji itu ada ribuan jumlahnya. Dibacanya Kanji api, air, tanah, gunung. Susah ya… bahkan Nihon-Jin saja pusing dalam pemakaiannya dan memang diajarkan wajib di sekolah sejak kecil. Jadi wajar kalau aku juga bingung hehehe).

Nah, di setiap akhir kelas Sensei memberikan gambaran apa yang sudah kami pelajari sejauh ini dan untuk kelas selanjutnya akan belajar apa saja. Setelahnya kami bebas bertanya apa saja di luar pelajaran. Kadang minta tips jadi backpacker, bahas kebiasaan warga lokal yang sering muncul di dorama atau (bagian favoritku) sekadar curcol tentang kehidupan WNI di sana (berhayal masa tua mendaki Fujiyama, tapi tetiba pusing ketika tahu beban pajak warganya) *nyengir*

Lalu, apa kriteria kalau mau daftar? beneran GRATIS nih?

Dulu sempat ngerasa bakal khawatir berat karena waktu belajar pasti banyak berkurang dengan aktivitas di rumah. Sempat cemas juga kalau aku ga bisa catch up dengan situasi kelas. Tapi setelah diinformasikan oleh Awan, kalau siapa saja bisa ikut yang penting ada niat belajar, akhirnya aku bulatkan tekad untuk mendaftarkan diri.

Ga disangka, akhir pekanku menjadi superseru. Setiap sesi selalu ada hal baru dan teman sekelasku juga sangat semangat saling dukung.  Ada yang kecanduan sukhudai (minta PR mulu :p), ada yang kalem tapi supercespleng, ada banyak nanya ini itu, kayak aku wkwkwk. Pokoknya ga pernah membosankan deh, selalu berakhir dengan haha hihi.

Yuk manteman yang berniat mengembangkan bakat bahasanya atau ingin coba hal baru dengan belajar bahasa asing, @Greenlanguange.Bali sedang membuka pendaftaran Batch 2 hingga 18 Juni 2020. Ikut di kelas bahasa asing tidak dipungut biaya tetapi lembaga menerima donasi berapapun untuk disalurkan kepada yang membutuhkan. Jadi lengkap ya pengalamannya, Donate, Learn, Share! Sambil belajar kita berdonasi, @greenlanguange.Bali akan melanjutkan misi baiknya memberikan beasiswa bagi pelajar di Bali. Tahun lalu mereka membiayai uang sekolah salah seorang siswa SMA di Mengwi Badung, Bali. Jadi kitapun bisa ikut berpartisipasi mendukung pendidikan generasi muda Indonesia.

Screen Shot 2020-06-15 at 19.20.39

Buruan daftar yaaa, ku tunggu juga cerita seru belajar bersama @greenlanguange.bali

Ganbatte Kudasai, Nihon-go wa muzukashikunai desu!

Arigatou Gozaimasu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *