Posted in doIndonesia, Tentang Racau

~tentang bersiap Vaksinasi

Malam ini berusaha mencari ketenangan sejenak. Menengok sepintas dunia maya, tapi situasi semakin tak bisa dipercaya. Beberapa sahabat masih bebal kalau pandemi ini hanyalah rekayasa. Sahabat lainnya, tengah berduka kehilangan sanak saudara. Jika tidak bisa membantu, melegakan, meringankan beban satu sama lain…cobalah berpikir dengan jernih dan berempati. “Jika bukan kita yang mengalami, bukan berarti duka itu tak berarti”.

Tetapi kita bukan sekadar angka. Di balik angka-angka yang terus membesar, banyak cerita perih, duka namun juga semangat dan harapan.

Puan Indonesia Menulis Pandemi, Kita Bukan Sekadar Angka.

Terhitung sejak Maret 2020, besok, 09 Juli 2021 adalah kali pertama aku akan keluar rumah dalam situasi pandemi ini. PANIK GA? PANIK GA? Panik laaah! tapi berusaha sadar. LoL. Setahun lebih punya previlese di rumah jujur membuatku takut untuk menghadapi kerumunan. Karena itulah aku sangat membatasi aktivitas di luar rumah. Ku timbang plus minusnya, ku pilah pilih tingkat kepentingannya. Hingga akhirnya mengerucut ke satu komitmen, bahwa Aku akan #dirumahAja hingga besok DEBUT pecah teloooor menapaki aspak jalan raya. Traktak Dungjesss!!!

Antusias banget karena akan keluar rumah! Walau cuma beberapa jam ini jadi pelipur lara menikmati buah dari kesabaranku menanti giliran VAKSINASI. Sejak dibukanya program vaksinasi di tahun 2021, aku mencoba berbagai macam cara agar bisa vaksin secepatnya. Awalnya aku mau daftar sebagai tenaga pengajar, karena kebetulan semester ini memang sedang kembali ke kampus. Rencana tak dijalankan, karena dari kantor suami akan ada program vaksinasi untuk keluarga. Eh…tahunya sampai sekarang belum dapat panggilan. Setelah ku tanya, programnya diutamakan dulu untuk pekerja, oke aku maklum dan mencoba cara lain. Rencana kedua, dengan surat domisili. Tinggal di daerah perbatasan Banten-Jakarta rasanya seperti lagi lihatin teman sebelah lagi makan pop mie~ kita cuma bisa mandangin dan nyium aromanya doang wkwkwk. Ternyata program vaksin yang dijalankan adalah untuk pekerja dan domisili DKI, walau kata beberapa kawan “datang saja, pasti dapat kok”. Tapi aku ga mau ambil risiko karena cari waktu untuk keluar rumah harus dengan persiapan matang dan diskusi panjang dengan keluarga. Teman lain menyarankan untuk ikut antri di Puskesmas terdekat. “Banyak lho stoknya, eman-eman kan yang jadwal tapi ga mau vaksin mending buat kita-kita yang mau”. Rencana ketiga tak terlaksana. Setelah diskusi dengan ibu-ibu di perumahan, beberapa Puskesmas sudah didatangi. Ada yang antrinya kepalang puanjaaang…ada yang memang hanya melayani warga KTP setempat. Opsi lainnya adalah vaksin di Bali saja. Toh pandemi ini ramai dihuruharakan di Bali. Apa-apa semua di Bali, jadi ku rasa aksesnya akan mudah. Ternyata…second wave mengharuskan kami untuk menunda pulkam dulu. Rencana bukan lagi Plan A Plan B, tapi rasanya sudah sampai plan Z (untung ga berubah jadi Plan(t) & Z(ombie) wokokoko!

Ya sudahlah…sambil terus mencari informasi, menyiapkan surat domisili, serta menjaga kesehatan diri, aku belum mau menyerah. Walau kepala sudah mulai gerah membaca isi media sosial yang sepertinya semakin hilang empati dan toleransi sosialnya. Aku coba membentengi diri, dengan detox internet seperlunya. Dalam situasi ini wajar rasanya jika kita mute/unfollow/block siapapun yang tetap bebal bahwa virus ini adalah sebuah konspirasi. CAPEY DECH.

Malam ini setelah usai ritual lipat cucian, aku menyiapkan tas (pandemic kit) dan check administrasi agar besok tidak megrudugan. Akhirnya warga Djelita (jelata penuh cinta) dapat juga jadwal vaksinasi. Boro-boro mau pilih merk vaksin, mau daftar aja baru bisa sekarang. Yuk yang belum vaksin mari segerakan. Jika tidak ada hambatan secara medis, mari ikhtiar vaksin untuk keselamatan bersama. Doakan ya! kecup :*

Leave a Reply

Your email address will not be published.