Posted in Tentang Anak

~Tentang Membuat Kesepakatan Keluarga

WhatsApp Image 2020-08-11 at 2.58.22 PM

  • Lalu Disiplin yang Bagaimana?

Disiplin apa yang sebenarnya bisa membantu proses ‘detoksifikasi’ ini berlangsung dengan lebih baik? Praktik disiplin positif tentu jadi strategi utamanya. Mulai bijak mengurangi disiplin yang sifatnya menekan, seperti misalnya saat menjadikan hadiah sebagai sogokan untuk mengubah perilaku. Hindari pula untuk memberikan pujian yang tidak berhubungan dengan perilakunya. Sejak dini mulai ubah kebiasaan ini dengan memberikan dukungan (solusi) tanpa perlu menjanjikan apapun sebelum perilaku muncul dari si anak. Saya jadi tertarik ketika anak yang komunikasinya sudah mulai terasah mulai kita ajak untuk membuat Kesepakatan (Code of Conduct). Bagaimana caranya? Yuk kita bahas Strategi Perumusan Kesepakatan Keluarga.

Sebelum merumuskan kesepakatan keluarga, hal yang perlu kita laksanakan dulu adalah Disiplin Positif.  Dukungan, semangat, bantuan diskusi dalam menemukan solusi adalah fase pematangan karakter anak dan orang tua itu secara bersama-sama dalam waktu yang mungkin berbeda. Jika hadiah (benda) dipandang sebagai sesuatu yang bisa dipakai untuk mengapresiasi prestasi anak (dalam hal apapun) dengan penyebutan janji-janji sebelum perilaku muncul maka ini bukan disiplin yang tepat untuk anak berkembang. Di dalamnya hanya ada kuasa superior terkait jumlah dan bentuk hadiah yang ditetapkan orang dewasa. Atau perasaaan senang anak hanya bergantung pada motifnya mendapatkan hadiah (lagi dan seterusnya). mengajarkan kita untuk membangun komunikasi yang lebih baik. Komunikasi tidak hanya antara anak dan orang tua tetapi komunikasi anak dengan dirinya sendiri. Sejak dini mengajarkan anak untuk mencintai diri sendiri. Setelah cinta personal, terpenuhi dengan baik yang tercermin dalam ranah kecerdasan emosi dan akal, maka selanjutnya rasa cinta ini akan muncul dalam lingkup sosial-cinta sesama manusia. Setelahnya, konsep cinta kepada lingkungan sekitar tak sebatas antarmanusia saja, tapi berkembang menjadi lebih luas yaitu cinta sesama ciptaan tuhan. Ketika anak mampu menerima, merasakan, menyadari cinta dalam lingkup tersebut, maka cinta kepada Sang Pencipta dalam wujud spiritual (cinta tuhan) akan menjadi pegangan untuknya selalu berbuat kebaikan pada diri dan sekitarnya.

  • Anak Patuh atau Anak Sadar?

Poin penting yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah perbedaan antara anak patuh dan anak sadar. Anak patuh belum tentu sadar, jika anak sadar maka kepatuhan akan tumbuh sendiri dan dilakukan atas kemauan sendiri. Mari kita pahami perbedaannya berikut ini:

Anak patuh: kontrol eksternal, hukuman dan imbalan, fokus pada perilaku yang terlihat di permukaan, peraturan dibuat oleh yang berkuasa, patuh dalam jangka pendek, perilaku tidak disiplin dianggap sebagai gangguan yang mengancam, pendidik berperan sebagai polisi dan hakim.

Anak sadar: kesadaran internal, konsekuensi logis dan solusi, fokus pada akar munculnya perilaku (kebiasaan, keyakinan, pola pikir), peraturan dibuat bersama anak, kesadaran dalam jangka panjang, perilaku tidak disiplin dianggap kesempatan untuk mengajarkan keterampilan memenuhi komitmen, pendidik berperan sebagai pelatih emosi.

Nah, setelah memahami perbedaannya lalu negosiasi dan investasi apa yang akan kita lakukan bersama anak. Apakah anak menjadi patuh atau ia dapat menjadi manusia yang punya kesadaran?

  • Buat Kesepakatan (Code of Conduct)
  1. dibuat dengan KETERLIBATAN semua anggota keluarga
  2. Orang tua TIDAK MENGINTERVENSI IDE ANAK
  3. hasil diskusi melalui proses NEGOSIASI semua anggota keluarga
  4. Fokus pada hal yang dianggap PENTING dan disepakati oleh semua anggota keluarga
  5. mendorong ALASAN yang dapat dijelaskan anak
  6. mencangkup NILAI-NILAI yang menumbuhkan perkembangan perilaku positif pada anak
  7. Dinyatakan dengan KALIMAT POSITIF, (apa yang harus dilakukan bukan yang jangan dilakukan)
  8. Menyepakati KONSEKUENSI jika dilanggar (3R dan 1H)
  9. ajar anak membuat VISUALISASI yang mendorong KREATIVITAS anak
  10. Dibuat TERTULIS di area yang mudah dibaca
  11. perlu selalu DITINJAU ULANG bila masalah pelanggaran muncul beberapa kali setelah periode tertentu
  12. Saat terjadi pelanggaran gunakan pernyataan REFLEKTIF

One thought on “~Tentang Membuat Kesepakatan Keluarga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *