Posted in doinUSA

~Tentang Sakit di Perantauan

Hola…

IMG_3729.JPG

Aku muncul untuk bercerita pasti yo saat-saat kesepian, galau (ini mah tiap hari) atau saat merasa dunia akan runtuh sedetik lagi. Hahaha…

Kali ini mampir bercerita sambil menahan ingus yang mengalir dan (sialnya) mampat saat aku butuh tidur. Damn!

Sakit adalah sebuah kata penegasan bahwa AKU KALAH melakukan kesehatan pencegahan bagi diriku sendiri sebagai mahasiswa public health (yang konon mau master pula, alamak!).

Kondisi ini bisa aku terjemahkan sebagai bentuk protes tubuhku yang merasa dieksploitasi tanpa diberikan upah setimpal. Istirahat berantakan, pikiran semrawut, jadwal makan tak beraturan. Jangankan untuk berolahraga rutin, berjalan kaki untuk belanja saja sudah syukur daripada telepon uber dan tertampar belasan dollar.

Singkatnya, aku tahu teori bagaimana kita bisa jaga kesehatan agar senantiasa hidup bugar, tapi kenyataan tak sejalan…

Tuuuuhan bila masih ku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintainya…

*lah kok malah nyanyi*

Jadi seminggu ini, pasca pulang dari konferensi di Chicago, aku sudah merasakan badan pegal dan kepala tak sinkron dengan mata dan perilaku. Salah naik kereta, lupa ambil kembalian setelah belanja dan yang lebih konyol adalah belanja online sepuasnya. (well yang terakhir memang sengaja kali ya? *keplak*)

Sakit di perantauan lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya.

  • Sakit Berarti DL!

(mau bermanja-manja sama siapa?)

Iya beberapa tahun silam aku masih bisa berlagak ‘sok barbie’ renggek sana renggek sini biar dibelikan makanan ini itu, ditemani sepanjang hari atau bahkan diberikan simpati dengan menerima banyak bunga pelipur hati. Keenakan kali yah.

Di sini aku sendiri, uhm… maksudnya ada sih teman-teman, tapi kalau aku sakit mereka ya tetap harus berkegiatan seperti sedia kala. Di Amerika, lengah sedikit saja maka kesempatan akan hilang seketika. Semua tak mau kehilangan kesempatan apapun. Jangankan bermanjaria, dikasih SMS “get well soon” saja sudah suatu berkah. Bukan tidak peduli, bukan. Kami semacam sudah punya perjanjian bahwa setiap orang yang ada di sini memiliki kepribadian yang tangguh. Jadi semua akan bisa menyelesaikan masalahnya masing-masing. Dan sakit ini adalah bagian dari masalah.

Well masalah lainnya ya… aku mau manja-manja sama siapa? statusku sekarang kan… ahh sudahlah.

  • Sakit Berarti Menunda.

Di sini, aku tidak bisa bekerja dalam kondisi yang tidak 100% sehat. Walau segombal rayuan Setya Novanto minta saham freeport aku tetap tak akan diberikan kesempatan untuk beraktivitas secara normal. Sebut saja di tempat magang. Pimpinan kantor lebih rela memberikan cuti seminggu full daripada aku datang sebagai pembawa penyakit. “I can’t take a chance of getting sick.” Aku pun bermuram durja meratapi kumpulan file naskah dan editan video yang masih gegoleran di atas meja. Tenggat waktu tak akan berubah, itu artinya saat pulih aku harus ekstra ngebut tanpa mengurangi kualitas kerja. Tidak ada haha hihi, semua hanya demi terpenuhinya target! uuuh syedih. *coret-coret kalender di tembok*

  • Sakit Berarti bangkrut.

Ketika masih di tanah air, sebagai anak PNS aku mendapatkan fasilitas ASKES dan kalau sakit memang diajaknya ke puskesmas oleh bapak atau ibu. Di sini, sponsor beasiswa harus membayar asuransi kesehatan tiap semester sebesar $2150 (setara Rp 28.756.250 dg kisaran dollar Rp 13.375). Itu belum termasuk obat yang dibeli di apotek atau butuh treatment tambahan lain. Jika ingin berobat harus buat appointment dulu. Telat datang harus ulang lagi request jadwal. Sejauh ini aku belum pernah pakai jasa dokter di luar University Health Care, tapi kata advisor, aku perlu siapkan $10 juga tiap berkonsultasi. Ribet, dan tubuh ini seperti mengerti dan langsung pulih sekalinya berkunjung ke pusat kesehatan kampus saja. ANAK PUSKESMAS! ~bangga. Mood yang berantakan dalam kondisi ini juga berpengaruh terhadap pengeluaran biaya selama sakit (beli makanan di luar berarti keluar biaya besar, belanja online pembangkit mood berarti keluar biaya besar). Pokoknya sakit di sini MAHAL!.

Uhm… kalau bangkrut lainnya akibat sakit ya karena di beberapa kasus, pihak asuransi tidak menanggung semua biaya kesehatan. Misalnya insiden copotnya gigi saya (eh ini sudah masuk blog ga sih?) biaya yang dicover tak lebih dari $250. Kalau mau beli gigi baru yang bisa mencapai $2000 yo ditanggung sendiri. Miskin lah awak…!

Saat sakit gini manying pun keluar. Kangen rumah lah, sensitif lah, merasa tak beruntunglah, inilah itulah. Pokoknya banyak pikiran negatif berdatangan. Mau ngeluh di sosmed kok ya meraung-raung bagaikan Farhat Abbas yang super sensasional minta diliput media… kalau diam malah terasa butek sendiri. Sejauh ini aku masih sangat beruntung karena masih bisa curhat sama Bapak dan curcol sedikitlah via sosmed. ~Ngyahahaha~ namanya juga usaha. Siapa tahu ada Bli-Bli Ganteng (yang bukan srigala) mengirimkan pesan singkat untuk kesembuhanku. ~teteup usaha.

Lalu, kalian ngapain biasanya kalau lagi sakit?

*Ga kepo mantan atau stalking gebetan kan? yang jelas itu bisa memperparah kondisi kesehatan! waspadalah, waspadalah!

MERDEKA!

 

4 thoughts on “~Tentang Sakit di Perantauan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *